TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Wednesday, August 4, 2010

Sebuah Cerita dari Pengalaman Merawat Bayi

MELATIH BAYI TENGKURAP

Dua minggu setelah Aini lahir, saya dan suami membawanya ke seorang bidan, Ibu Henny namanya, untuk diperiksa kesehatannya. Ibu Henny adalah bidan yang rutin saya kunjungi untuk memeriksakan kandungan selama hamil, selain seorang dokter kandungan lain yang juga menjadi supervisor kehamilan saya (saat itu saya berpikir lebih banyak opini lebih baik).

Setelah basa-basi sejenak, Ibu Henny pun mulai memeriksa kesehatan Aini.

Dibaringkannya Aini yang masih lemah di atas tempat tidur pasiennya, lalu.. hop-hophop.

Tiba-tiba saja, ia menengkurapkan Aini di atas kasur. Ya Allah! Saya kaget bukan kepalang. Gerakan tangan si Ibu bidan sangat cekatan dan sigap, dan dengan mudahnya Aini yang tadinya tidur terlentang jadi menengkurap.

"Bu...? Nggak apa-apa ya?" tanya saya panik.

"Nggak apa-apa. Kasihan kan dia, capek tidur terlentang terus. Sekali-kali biar aja tengkurap, supaya badannya nggak pegel," jawab Ibu Heny.

"Tapi, nafasnya gimana, Bu?"

"Nggak apa-apa kok, bayi sudah bisa bernafas ke samping kiri dan kanan kalau tengkurap. Dibantu aja sama kita supaya dia bisa mudah memindahkan kepalanya.

Begini nih," Bu Heny memperagakan lagi. Dengan kedua tangannya, dipegangnya kepala Aini dengan hati-hati dan diarahkannya untuk menoleh ke sisi lain. Benar juga, Aini dengan mudah ikut menolehkan kepalanya.

"Tapi hati-hati, jangan dipaksa kalau dia nggak mau," lanjut Bu Heny lagi. Lalu, dengan gerakan yang sigap lagi, ia kembali menelentangkan Aini di atas tempat tidur.

"Memangnya apa gunanya bayi ditengkurapkan, Bu?" tanya saya tidak mengerti.

"Banyak, di antaranya melatih bayi untuk dapat mengangkat kepalanya dan menguatkan tulang-tulang belakangnya. Selain itu, tidur tengkurap juga sebenarnya lebih menyenangkan untuk bayi, membuatnya tidak rewel dan nyaman saat tidur," jawab Bu Heny lagi.

"Ooh...." Saya manggut-manggut.

Maka, sejak pertemuan hari itu, saya dan suami pun mulai rajin menengkurapkan Aini bolak-balik. Kadang, bila sedang tengkurap, kami mengusap2 punggung kecilnya agar tidak pegal.

Tidak jarang juga kami sengaja menidurkan Aini sambil menengkurapkannya, tentu saja tanpa sedikit pun lepas dari pengawasan kami.

Dan ternyata memang benar, kurang lebih di usia sebulan, Aini sudah bisa mengangkat kepalanya sedikit-sedikit dan menoleh dengan kemauannya sendiri saat ditengkurapkan. Lucu sekali rasanya melihat kepalanya yang mungil menoleh ke kanan dan kiri saat tidur tengkurap. Semua sesuka hatinya saja. Ketika ia sudah merasa letih tengkurap dan menangis, baru saya kembali menelentangkannya seperti biasa.

Syukur Alhamdulillah, pengalaman tengkurap-menengkurapkan itu sangat berpengaruh pada perkembangan motorik Aini selanjutnya. Aini dapat dengan cepat mengangkat kepalanya saat tengkurap, diikuti dengan mengangkat dadanya, pantatnya, hingga lama-kelamaan ia dapat merangkak dan duduk dengan sendirinya.

Khusus untuk saya, saya merasa sangat beruntung datang ke tempat Ibu Henny di saat Aini baru lahir. Meski terkesan sepele, saya merasa sangat senang Aini bisa dilatih tengkurap sejak usia masih sangat kecil, karena setahu saya masih jarang ibu-ibu baru melahirkan yang dapat melatih bayinya untuk tengkurap.

Just to share........