TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, July 20, 2010

Wawasan Al-Quran Tentang Epistemologi

Oleh: M.Quraish Shihab

Makalah disampaikan pada acara “Diskusi Pakar tentang Krisis Epistemologi Islam di PerguruanTinggi" yang diselenggarakan atas Kerjasam FUF UIN SyarifHidayatullah dengan IIlT USA di Jakarta 23 Mei 2008.


I. PENDAHULUAN.
Uraian sederhana berikut akan mengetengahkan wawasan AI-Qur' an - tentu saja dalam pandangan penulis dan para pakar yang penulis timba dan setujui pandangannya - menyangkut beberapa persoalan epistemologi.
Terlebih dahulu perlu penulis diketengahkan bahwa kendati bahasan menyangkut Epistimologi merupakan bahasan filsafat, dan walaupun sementara orang hendak menjauhkan AI-Qur'an dari filsafat, namun itu bukan berarti bahwa kita tidak dapat berkata bahwa dalam AI-Qur'an dapat ditemukan ayat-ayat yang berbicara tentang mas'alah-mas'alah yang menjadi pokok bahasan fiIsafat, walau bukan dengan istilah-istilah yang digunakan para Philosof.
Kalaulah kita menerima penjelasan yang menyatakan bahwa filsafat adalah dasar semua pengetahuan yang mempersoalkan cara-cara meraih pengetahuan, pengembangan pemikiran, batas pengetahuan dan bagaimana memanfaatkan pengetahuanm, maka tidak pelak lagi bahwa dengan mudah dapat ditemukan sekian banyak ayat yang berbicara tentang hal-hal tersebut bahkan sebagian dari persoalan diatas dapat ditemukan jawabannya pada wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad saw.
Sebelum melangkah untuk membahas pandangan AI-Qur'an tentang epistemologi - sebagaimana yang penulis fahami - terlebih dahulu kita perlu merujuk kepada bahasa dan disiplin ilmu filsafat tentang apa yang dimaksud dengan istilah tersebut.

II. EPISTEMOLOGY DAN POKOK-POKOK BAHASANNYA.
Para pakar menyatakan bahwa epistimologi terambil dari kata Yunani kuno epistime yakni berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata tersebut diartikan sebagai satu bagian dari bahasan filsafat yang membahas dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan. Pakar-pakar agama Islam berbahasa Arab menerjemahkannya dengan Nazhariyat al-Ma'rifah. Mereka tidak menamainya Nazhariyat AI-'Ilm karena 'Ilm (ilmu) berbeda dengan Ma'rifah. Ilmu dalam penggunaan bahasa itu adalah sesuatu yang jelas, tidak mengalami kekaburan, sedang kata ma'rifat boleh jadi disertai kekaburan karena itu pula Allah tidak menyandang sifat ma'rifat. Dia tidak dinamai 'Arif tetapi ‘Alim (Maha Mengetahui,) yang pengetahuan-Nya tidak didahului oleh ketidak tahuan, tidak juga disentuh oleh kekaburan, berbeda dengan manusia ketika menyandang sifat ‘Arif. Penggunaan istilah Nazariaya l-Ma'rifah disamping mengisyaratkan bahwa bahasan ini dalam pandangan agamawan berkaitan dengan pengetahuan manusia bukan pengetahuan Allah, juga untuk membedakan secara dini pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia.
Beragam uraian para pakar tentang persoalan yang dibahas oleh epistemologi namun agaknya kita dapat menyebutkan beberapa hal yang menjadi bahasan antara lain:
1. Apakah sumber pengetahuan?
2. Bagaimana manusia mengetahui?
3. Apa watak pengetahuan?
4. Apakah yang diketahui itu ada wujudnya diluar benak siapa yang mengetahuinya. Kalau ada apakah manusia dapat menjangkaunya?
5. Apakah pengetahuan kita - yang ada dalam benak itu - benar adanya?
6. Bagaimana membedakan antara yang benar dan yang salah?
Pertanyaan-pertanyaan diatas dan semacamnya serta usaha menjawabnya telah dilakukan generasi masa silam, sesaat setelah mereka mempertanyakan tentang nilai pengetahuan (apa yang diketahui). Jawaban mereka beragama, akibat perbedaan pandangan mereka tentang keabasahan informasi panca indara.
Apa yang kita lihat adalah maya, " Tidak ada yang mewujud. Kalaupun ada maka ia tidak bisa diketahui dan kalaupun bisa diketahui ia tidak bisa dikomunikasikan" begitu padangan sementara kelompok. Dahulu Georgias salah seorang tokoh aliran sophisme (sekitar Abad IV -V SM) pemah menggunakan logikanya untuk membuktikan bahwa tidak ada yang maujud di alam nyata dengan berkata: "Kalau disana ada sesuatu yang maujud, tentu saja dia wujud dari ketiadaan atau wujud dari wujud sebelurnnya. Bila dari ketiadaan maka hal tersebut mustahil karena tidak mungkin sesuatu mewujudkan dirinya, kalau dari wujud sebelumnya, maka ini akan mengakibatkan tasalsul yakni perurutan yang tidak berakhir dan juga berarti ia tidak mempunyai awal "
Keyakinan bahwa tidak ada yang maujud dialam nyata dan bahwa apa yang diketahui hanyalah konsep mujarrad/ immatrial yang ada dalam benak yakni yang juga immatrial memengaruhi pula sementara kaum shufi sampai-sampai ada diantara mereka yang menyatakan bahwa : "Siapa yang berkata bahwa dalam maujud ini ada selain Allah, maka dia telah berbohong." Ucapan itu disanggah dengan lugu tapi membungkam dengan pertanyaan : "Jika dernikian, siapakah yang berbohong itu?"
Keraguan menyangkut panca indra memang wajar tetapi ia tidak harus selalu diragukan. Dia memang tidak jarang keliru apalagi tidak semua objek dapat menjadi sasarannya.

III WUJUD DALAM PANDANGAN AL-QURAN.
Sekian banyak ayat yang menganjurkan untuk menggunakan mata, dan telinga. Ini bukti bahwa yang diperintahkan untuk dilihat dan didengar itu adalah sesuatu yang wujud. Al-Qur'an juga menganjurkan untuk melakukan perjalanan dan menjadikan pengalarnan sebagai pelajaran yang harus dimanfaatkan. Karena itu kita dapat berkata bahwa dalam pandangan Al-Qur'an wujud yang yang diinformasikan oleh panca indra - selama dalam wilayah kerjanya - dapat diandalakan dan bahwa apa yang dijangkaunya adalah satu kenyataan. Ini selama indra itu . tidak mengalami gangguan dari dalam dan luar dirinya.
Selanjutnya Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk menggunakan nalamya dalarn menimbang ide yang masuk kedalam benaknya. Banyak ayat yang berbicara tentang hat ini dan dengan berbagai redaksi seperti tsa'qilun, tatafakkarun dan lain-lain. lni membuktikan bahwa akal pun mampu meraih pengetahuan dan kebenaran,- juga selama ia digunakan dalam wilayah kerjanya. Bahkan AI-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa : Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu kamu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, aneka penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. ( Q.S. An-Nahl [16]: 78.
Pada ayat diatas, disebutkan disamping mata dan telinga juga hati. Karena itu - dalam pandangan AI-Qur'an - mengandalkan indra dan akal saja untuk meraih pengetahuan atau mengandalkan keduanya saja untuk menetapkan yang maujud tidaklah cukup, akibat keterbatasan-keterbatasan kedua alat pengetahuan itu. AI Qur'an menginformasikan bahwa ada wujud yang tidak terjangaku oleh indra dan nalar. Allah berfirman sambil bersumpah Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat (dengan mata kepala atau dan mata hati) serta apa yang kamu tidak lihat (Q.S. AI-Haqah [69]:38-39).
Sebenarnya sementara philisof sudah menggaris bawahi ketebatasan akal dan ketidak mampuannya untuk menjangkau metafisika. Emanuel Kant ( 1724-1804 M) misalnya yang dinilai sebagai salah seorang tokoh utama rasionalisme menyatakan bahwa soal-soal metafisika bukanlah wilayah garapan akal. Wujud Tuhan, kehadiran ruh, - menurutnya - tidak bisa dituntaskan dengan bukti -bukti rasional.
Wujud ada yang hidup ada juga yang tidak hidup. Begitu secara umum logika kita berkata… karena hidup dalam pengertian umum ditandai oleh gerak, tabu atau rasa. Tetapi dari AI-Qur'an difahami bahwa ada wujud yang selama ini dikatagorikan sebagai tidak hidup, tetapi sebenarnya ia hidup. Bahkan seluruh wujud dalam pandangan kitab suci itu hidup, kendati panca indara dan nalar kita tidak menjangkau makna hidupnya. Bumi seringkali dilukiskan sebagai dihidupkan Allah setelah kematiannya, (Q.S. AI-Baqarah [2]: 164), guntur memuji Tuhan ( Q.S. Arra'ed [13]:13 ), gunung-gunung pun bertasbih, memenuhi perintah Allah agar mengulang-ulangi tasbih nabi Daud ( Q.S.Saba' [34]:10) bahkan segala sesuatu bertasbih memuji Allah tetapi hakikat semua itu tidak dapat dijangkau oleh nalar. "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun". (Q.S. AI-Isra' [17]:44).
Memang kita dapat memahami kata hidup, dalam ayat-ayat diatas dalam pengertian metafore atau bahwa ia berarti berfungsinya sesuatu sesuai dengan tujuan penciptaannya, bertasbih dan memuji pun dapat diartikan dengan pola tersebut, tetapi penekanan ayat diatas bahwa "tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka" bukan saja mengisyaratkan keterbatasan akal tetapi juga bahwa ada substasi wujud yang tidak terjangkau oleh indra dan nalar manusia.
Sikap nabi Muhammad saw berkaitan dengan benda-benda yang kita namai : "benda mati" juga menunjukkan bahwa benda tersebut hidup dan merasa. Beliau misalnya bersabda: "Bukit Uhud mencintai kita dan kita pun mencintainya." Benda-benda yang "tak bemyawa " beliau beri nama seperti pedang beliau dinamai Dzul Fiqar, gelas minum beliau As-Shadir, cemin beliau AIMidallah dan masih banyak lainnya. lni mengandung arti bahwa benda-benda itu memiliki "personality" yang merasa atau paling tidak membutuhkan persahabatan dan kasih sayang.

Sementara pakar AI-Qur'an menggaris bawahi Q.S. an-Nisa' [4] 10 “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya, mereka itu tidak lain kecuali memakan (menelan) api dalam perut mereka, dan nanti mereka akan masuk ke api yang menyala-nyala (neraka).
Dalam ayat ini disebut dua hal yang berkaitan dengan tindakan memakan harta anak yatim secara aniya. Yang pertama ya’kulu buthunihim nara yakni menggunakanfi'il mudhari' (kata kerja masa kini /present tense) sedang yang kedua wa sayaslu nasa’ira juga menggunakan kata kerja yang sarna hanya saja dibarengi dengan huruf I sin yang digunakan menunjuk masa datang. Perbedaan redaksi tersebut oleh sementara pakar dijadikan sebagai isyarat bahwa mereka yang memakan harta anak yatim secara aniya sejak sekarang telah memakan api, - kendati kita tidak melihatnya - dan nanti di hari kemudian mereka akan masuk ke neraka.

IV. HAKIKAT PENGETAHUAN.
Gambaran yang dikemukakan oleh para philosof tentang makna pengetahuan sungguh beragam. Filosof Islam Ibnu Maskawaih menulis bahwa "pengetahuan" adalah “Diserapnya oleh jiwa forma sesuatu yang wujud sesuai dengan hakikatnya." Yang dimaksud dengan form adalah lawan dari bentuk matrial sesuatu. Bentuk matrial kursi adalah sesuatu yang terbuat dari bahan-bahan tertentu seperti kayu atau besi dan yang berfungsi sebagai tempat duduk, sedang formanya adalah gambaran dari kursi yang masuk dalam benak. Tentu saja yang masuk ke dalam benak bukan kayu atau besi itu. Ada juga yang menggambarkan pengetahuan sebagai "Hadir atau terserapnya maujud non matrial dalam maujud non matrial lainnya" atau " Hadimya sesuatu, atau bentuk partikulamya atau konsep umurnnya pada maujud mujarrad." Filosof lain mengartikannya sebagai "Keyakinan tentang sesuatu yang sesuai dengan kenyataan." Pengetahuan/Ilmu menurut mereka adalah lawan dari kebodohan sederhana ( ketidak tahuan subjek terhadap objek) dan juga lawan dari kebodohan berganda yakni kebodohan sederhana plus dugaan subjek bahwa ia mengetahui objek padahal ia tidak mengetahuinya.
Apapun gambaran yang diberikan para pakar tentang makna pengetahuan, namun salah satu hal penting -dalam pandangan Islam- tentang makna pengetahuan, yang perlu digaris bawahi yaitu bahwa ia tidak selalu harus diperhadapkan dengan kebodohan. Jika ada mas'alah yang demikian sulit, lalu Anda sadari bahwa Anda tidak dapat menjangkaunya dan berkata "Saya tidak tahu" maka ucapan Anda itu menunjukkan pengetahuan Anda tentang masalah tersebut yakni bahwa ia demikian sulit dan tidak terjangkau. Ketika itu, yakni ketika Anda berkata "Saya tidak tahu" maka Anda memiliki pengetahuan melebihi pengetahuan siapa yang berusaha menjawabnya padahal pada akhimya dia tidak mampu menjawab. Karena itu AI-Qur'an pun mengajar kepada Nabi Muhammad saw untuk berkata "Saya tidak tahu " menyangkut hal-hal yang berada diluar kemampuan beliau - seperti ketika ada yang mengajukan pertanyaan tentang ruh, (Q.S. Al-Isra' [17]:85) dan Allah pun memerintahkan beliau untuk berdoa" Wahai Tuhan tambahlah untukku pengetahuan"( Q.S.Thaha[ 20]:1 14.
Ketika Sayyidina Abubakar r.a. ditanyai " Bagaimana Engkau mengenal Tuhan?" Beliau menjawab : Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan, Seandainya tanpa Tuhan Aku tentu tidak mengenal Tuhan" Si Penanya lebih lanjut bertanya : "Bagaimana Engkau mengenal-Nya?" Beliau menjawab:(Kesadaran akan ketidak mampuan menjangkau' sesuatu merupakan pengetahuan" Dari sini kita dapat berkata bahwa ada jenis pengetahuan yang justeru adalah ketidak tahuan." Itu salah satu sebab sehingga dalam literature agama ditemukan ungkapan yang menyatakan : "Ucapan saya tak tahu adalah setengah pengetahuan" dan itu pula sebabnya bibir dan karya tulis para ulama Islam selalu dihiasi oleh kalimat Allah A'lam .

V. KEBENARAN PENGETAHUAN.
Sementara pakar berpendapat bahwa pengetahuan yang diraih seseorang terdiri dari dua jenis. Pertama yang secara langsung menukik tanpa perantara. Ini seperti pengetahuan seseorang tentang dirinya. Sedang yang kedua adalah pengetahuan yang diraih melalui perantara, katakanlah bentuk badan dan wama kulit seseorang. Dua hal ini diketahuinya melalui perantara matanya. Yang pertama dinilai sebagai pengetahuan yang tidak disentuh oleh kesalahan. Sedang yang kedua yang bersifat perolehan itu mengandung kemungkinan salah.
Para rasionalis berpendapat bahwa tolok ukur mengenali kebenaran adalah watak dasar atau Fithrah akal ( Fithrat AI-' Aqel). Sedang para empiris berpendapat bahwa tolok ukur kebenaran pengetahuan adalah kemampuannya untuk dibuktikan melalui pengalaman bahkan sebagian berkata pengalaman praktis.
Kedua hal diatas tidak sepenuhnya diterima oleh ilmuan muslim. Tolok ukur pengalaman tidak dapat digunakan kecuali dalam kaitan dengan benda-benda kasat mata, bukan dalam soal-soal matematika dan akal murni. Disisi lain karena hasil pengalaman itu tentulah harus diketahui melalui pengetahuan yang bersifat perolehan, sedang sarana perolehan itu tidak dapat dijamin kebenarannya, maka hasil yang diduga sepenuhnya benar itu tidaklah dapat dipertanggung jawabkan keshahihannya. Ia hanya bersifat individual sehingga subjektivitasnya amat tinggi bahkan bisa jadi lahir kesimpulan yang diambil dari pandangan-pandangan keliru yang diduga benar, apalagi ia dihidangkan oleh si pemikir tanpa argumentasi atau pengkoordinasiaan.
AI-Qur'an menginformasikan bahwa : Setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Q.s. AI-An'am [6]:112). Di banyak tempat dalam AI-Qur'an ditegaskan bahwa Allah dan juga malaikat mengukuhkan hati orang beriman (Baca a.l. Q.s. , AI-Anfal [8]:12 dan Q.S. Ibrahim 14 : 27) karena itu menurut bahasa Nabi Muhammad saw, apa yang muncul dari dalam diri manusia bisa jadi Lammat malakiyah yakni bisikan malaikat, bisajuga Lammat Sayaithaniyah / bisikan setan.
Seseorang memang dapat diliputi oleh subjektivitas yang menjadikan kesimpulannya tidak berdasar yang shahih. Dari sini juga kita dapat berkata bahwa kebenaran yang diperoleh manusia melalui dirinya sendiri - baik perolehan yang menukik tanpa perantara maupun dengan perantara adalah kebenaran nisbi. Kalau perolehan itu disepakati oleh para pakar dalam bidangnya, maka ia menjadi kebenaran ilmiah yang sifatnya tetap nisbi dan bisajadi temporer.
Al-Qur'an pun mengisyaratkan adanya pengetahuan yang diperoleh tanpa perantara. Tetapi yang ditekankannya adalah yang bersumber dari luar diri manusia.
Dalam wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw Allah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya: Yang mengajar dengan pena, mengajar manusia a pa yang belum diketahui(nya) (Q.S. AI-Qalam [96]: 4-5
Dalam Tafsir AI-Misbah penulis antara lain menguraikan bahwa :" Pada kedua ayat diatas terdapat apa yang dinamai Ihtibak yang maksudnya adalah tidak disebutkan sesuatu keterangan yang sewajarnya ada pada dua susunan kalimat yang bergandengan karena keterangan yang dimaksud telah disebut pada kalimat yang lain. Pada ayat empat kata manusia tidak disebut karena telah disebut pada ayat lima, dan pada ayat lima kalimat tanpa pena tidak disebut karena pada ayat empat telah diisyaratkan makna itu dengan disebutnya pena. Dengan demikian kedua ayat diatas dapat berati "Dia (Allah) mengajarkan dengan pena (tulisan) (hal-hal yang telah diketahui manusia sebelumnya) dan Dia mengajarkan manusia (tanpa pena) apa yang belum diketahui sebelumnya." Kalimat "yang telah diketahui sebelumnya" disisipkan karena isyarat pada susunan kedua yaitu "yang belum/tidak diketahui sebelurnnya". sedang kalimat "tanpa pena" ditambahkan karena adanya kata "dengan pena" dalam susunan pertama. Yang dimaksud dengan ungkapan "telah diketahui sebelumnya" adalah khazanah pengetahuan dalam bentuk tulisan.
Dari uraian di atas kita dapat menyatakan bahwa kedua ayat diatas menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah swt. dalam mengajar manusia. Pertama melalui "pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah 'llm Ladunny.
Kebenaran Ilm Ladunny melebihi kebenaran hasil penalaran. lni diuraikan oleh AI-Qur'an melalui kisah Nabi Musa as bersama seorang yang dianugerahi Allah llm Ladunny. Nabi Musa as yang demikian cerdas, dan kritis yang tentunya menimbang segala sesuatu dengan sangat cermat, telah dinilai keliru, padahal Siapa yang menggunakan nalamya pasti akan berkata bahwa membocorkan perahu milik orang miskin dan sarana pencarian rezekinya adalah sesuatu yang buruk,... membunuh anak kecil adalah tindakan kriminal,.. membangun bangunan yang hampir rubuh dengan meminta upah adalah sangat wajar dan rational. Tetapi satu persatu dipersalahkan oleh dia yang mendapat llm Aldunny itu guna membuktikan bahwa dibalik phenomena yang dilihat dan dan menjadi bahan pertimbangan Nabi Musa as, masih ada sekian banyak hal yang tersembunyi yang tidak diketahuinya dan yang menuntutnya untuk percaya dan - Ittiba'. (Q.S. al-Kahfi [18]: 60-82).
Untuk memperolehnya diperlukan kebersihan hati dan ketaqwaan. Sementara pakar menjadikan firman-Nya “dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajar kamu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Albaqarah [2] :282) sebagai bukti keterkaitan antara taqwa dengan perolehan pengetahuan. Dalam Q.S. AI-Hadid (57] 28 Allah menegaskan keterkaitan iman dan taqwa dan perolehan cahaya penerang jalan hidup yakni ilmu. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan berimanlahn kepada rasul-Nya, niscaya Allah memberikan dua bagian dari rahmat-Nya kepada kamu dan menjadikan buat kamu cahaya (yang menerangi kamu) dalam berjalan. Cahaya yang dimaksud adalah ilmu, karena /lmu adalah cahaya sedang kebodohan adalah kegelapan.
Wahyu-wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia-manusia agung yang siap dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajarannya tanpa alat dan tanpa usaha manusia.
Dibawah peringkat wahyu adalah ilham, intuisi dan firasat, dan juga mimpi yang kesemuanya dalam beberapa rinciannya adalah anugerah Tuhan semata, dan tidak dapat diperoleh melalui usaha manusia. (1)

VI. PEMANFATAN ILMU.
Sejak dini bahkan dalam wahyu pertama Al-Qur' an telah menggaris bawahi bahwa perlunya memanfaatkan ilmu. Ilmu dituntut bukan untuk tujuan mengetahui tetapi untuk diamalkan dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan seluruh makhluk. Firman-Nya Iqra' Bismi rabbika perintah untuk melakukan upaya pencarian pengetahuan demi atas nama dan demi karena Allah.. Karena itulah AI-Qur'an tidak mengenal semboyan “Ilmu untuk Ilmu". Setiap langkah pencarian ilmu, tidak boleh lepas dari tujuan kemaslahatan sebanyak mungkin makhluk. Dari sini juga kita menemukan Nabi Muhammad saw mengajarkan doa yang antara lain menyatakan: Allahumma Inny A'udzu Bika Min 'ilmen La Yanfa' (Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).
Sayyidina Ali k. w. yang digelar sebagai Pintu gerbang Ilmu (Bab Madinatil AI-'Ilm) berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah yang bermanfaat. Ketahuilah bahwa tidak ada baiknya pengetahuan yang tidak bermanfaat dan tidak tidaklah dapat dimanfaatkan pengetahuan yang tidak wajar dipelajari"
Manfaat dimaksud adalah buat diri dan juga buat masyarakat. Dalam literature agama ditemukan juga nasehat berikut :
•Sebaik-baik pengetahuan untukmu adalah pengetahuan yang tidak menjadi baik aktivitasimu kecuali dengannya ...
•Aktivitas yang paling perlu engkau laksanakan adalah yang engkau dituntut tanggungjawab dalam pelaksanaannya.
•Pengetahuan yang paling perlu engkau ketahui adalah yang menuntunmu menuju kebajikan kalbumu, lagi menampakkan keburukannya.
•Jangan sekali-kali engkau menuntut pengetahuan yang tidak merugikan ketidak tahuanmu tentang pengetahuan itu dan
•Jangan mengabaikan pengetahuan yang menjadikan pengabaiannya menambah kebodohanmu.

VII PENUTUP.
Demikian beberapa persoalan epistemologi yang dapat penulis paparkan dalam kesempatan ini. Wa Allah A'lam.

Nota
1. Intuisi misalanya ada yang berdasar pengalaman indrawi, ada juga yang berupa pengetahuan menyangkut aroma atau warna sesuatu. Yang kedua pengetahuan langsung yang diraih melalui nalar dan bersifat aksioma seperti A adalah A, bukan B, atau "10 lebih banyak daripada 9". Sedang yang ketiga adalah munculnya satu ide cemerlang secara tiba-tiba seperti halnya Newton ( 1642-1727 M) menemukan gaya gravitasi setelah melihat sebuah apel yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia duduk. Mimpi disamping ada yang merupakan akibat dari keadaan yang sedang dialami oleh yang tidur, dan keinginan yang meluap yang tidak dapat diwujudkan dalam alam nyata, ada juga mimpi-mimpi yang merupakan informasi Allah seperti halnya mimpi nabi Yusuf (Q.S. Yusuf [12]:4 )dan Nabi Ibrahim as (Q.S.As-Shafat [37]: 102)